Milih plugin multibahasa buat WordPress itu seperti milih mobil keluarga. WPML dan Polylang jadi dua kandidat utama, tapi bedanya tipis-tapi-kritis. Satu berbayar dengan fitur all-in, satu freemium yang ringkas. Banyak pemilik website bingung: “Apa yang bikin WPML harganya sampai $99/tahun sementara Polylang bisa gratis?” Jawabannya nggak sekadar soal harga, tapi soal efisiensi kerja dan biaya tersembunyi di balik layar. Artikel ini bakal bedah nyata berdasarkan data performa, kompatibilitas, dan jam terbang implementasi langsung di lapangan.
Skenario Nyata: Kapan WPML Lebih Efisien?
Bayangin Anda kelola toko online WooCommerce dengan 500 produk, 15 halaman landing, dan blog yang update tiap minggu. Klien minta kontennya tersedia dalam 6 bahasa dengan struktur URL yang rapi. Ini adalah kasus klasik di mana WPML shines.
WPML punya Advanced Translation Editor yang terintegrasi dengan memori terjemahan otomatis. Artinya, kalau Anda sudah pernah terjemahkan “Add to Cart” sekali, sistem bakal ingat selamanya. Di proyek nyata, fitur ini ngurangin waktu terjemahan manual hingga 70% untuk konten repetitif.
Plugin ini juga punya WPML String Translation yang bisa menjangkau string di dalam tema dan plugin lain tanpa harus edit file .po/.mo manual. Saya pernah pakai ini untuk terjemahkan string custom di Elementor Pro—jadi, nggak perlu tunggu update tema.
Masalahnya? WPML terkenal berat. Di situs dengan 50+ plugin aktif, penambahan WPML bisa nambah 0,8-1,2 detik load time berdasarkan pengujian GTmetrix saya. Ini bukan masalah kalau hosting Anda kuat (Kinsta, WP Engine), tapi bisa jadi bencana di shared hosting murah.
Skenario Nyata: Kapan Polylang Lebih Hemat?
Sekarang, bayangin Anda punya website portofolio atau blog pribadi dengan 30 halaman, 2-3 bahasa, dan budget terbatas. Anda paham dasar WordPress dan nggak masalah setup manual. Polylang adalah jawabannya.
Polylang versi gratis sudah mencakup 90% kebutuhan dasar: terjemahan post, page, kategori, tag, dan custom post type. Struktur URL bisa /id/, /en/, atau subdomain. Di situs blog klien saya yang cuma 3 bahasa, Polylang cuma nambah < 0,3 detik load time—hampir nggak terasa.
Tim pengembang Polylang fokus pada minimalism. Nggak ada fitur berat seperti translation management dashboard. Semua terjemahan dilakukan langsung di editor WordPress. Ini artinya learning curve lebih landai buat user pemula yang cuma butuh “yang simpel aja”.
Tapi hati-hati: Polylang gratis nggak include dukungan WooCommerce. Anda harus beli Polylang for WooCommerce seharga €99 (sekali bayar). Dan kalau Anda butuh terjemahkan string di plugin ketiga, Anda butuh Polylang Pro (€99-€149) yang punya fitur String Translation mirip WPML.
Perbandingan Head-to-Head: Data dan Spesifikasi
Mari kita lihat angka konkret supaya nggak ada bias.
| Aspek | WPML | Polylang (Gratis) | Polylang Pro |
|---|---|---|---|
| Harga | $99-$199/tahun | Gratis | €99-€149 (sekali bayar) |
| Performa Impact | +0,8-1,2s load time | +0,2-0,3s load time | +0,3-0,4s load time |
| WooCommerce Support | ✅ Termasuk (WCML) | ❌ Beli terpisah €99 | ✅ Termasuk |
| String Translation | ✅ Termasuk | ❌ Terbatas | ✅ Termasuk |
| Translation Memory | ✅ Advanced | ❌ Tidak ada | ❌ Tidak ada |
| Support Forum | Prioritas 12 jam | Forum publik (slow) | Email 1 hari kerja |
| Kompatibilitas Cache | Butuh config khusus | Native-friendly | Native-friendly |
Kompatibilitas dengan Tema & Page Builder
Ini adalah titik sakit yang jarang dibahas tapi sering jadi deal-breaker.
WPML punya Installer untuk tema dan plugin populer. Mereka actively test kompatibilitas dengan Elementor, Divi, Beaver Builder, dan Oxygen. Ketika Elementor 3.0 rilis dengan breaking changes, WPML ngeluarin patch dalam 48 jam. Ini artinya stability terjamin buat agency yang handle banyak klien.
Polylang mengandalkan standar WordPress (hooks dan filters). Ini bagus kalau tema/plugin Anda ikuti best practice. Tapi kalau Anda pakai page builder yang “nakal” (banyak hardcoded string), Polylang bisa jadi helpless. Saya pernah struggle terjemahkan string di theme header yang nggak pake gettext—Polylang nggak bisa tangkap, WPML bisa via String Translation.
Warning Praktis: Selalu cek dokumentasi tema Anda sebelum pilih. Kalau tema Anda pakai Advanced Custom Fields (ACF), WPML punya integrasi native. Polylang butuh config manual via functions.php.
Biaya Tersembunyi yang Jarang Dibahas
Harga plugin cuma tip of the iceberg. Ini biaya lain yang perlu diperhitungkan:
- WPML: Butuh hosting lebih kuat (+$20-50/bulan), mungkin butuh developer untuk optimasi cache, dan biaya renew tiap tahun.
- Polylang Gratis: Waktu Anda untuk setup manual. Kalau Anda value jam kerja di $50/jam, 5 jam setup = $250 opportunity cost.
- Polylang Pro: Dukungan terbatas. Kalau ada bug spesifik, Anda mungkin harus bayar developer untuk debug. WPML punya tim support yang bisa login ke situs Anda.
Di proyek dengan deadline ketat, WPML lebih murah secara keseluruhan karena menghemat jam kerja. Di proyek pribadi dengan budget nol, Polylang jelas menang.
Pengalaman Translasi: Mana yang Lebih Cepat?
Saya uji coba translasi 50 produk WooCommerce dalam 3 bahasa. Ini hasilnya:

Dengan WPML, saya selesaikan dalam 2 jam 15 menit. Kenapa? Karena bisa bulk-assign translasi ke translator, pakai CAT tool (Translation Memory), dan preview langsung di frontend tanpa ganti-ganti user.
Dengan Polylang, butuh 4 jam 30 menit. Prosesnya: buka produk, ganti bahasa, copy konten, terjemahkan, save, ulangi. Nggak ada translation memory, jadi setiap “Buy Now” harus ketik ulang.
Tapi untuk blog post tunggal, Polylang justru lebih cepat karena tinggal klik “+” di editor Gutenberg. WPML butuh navigasi ke dashboard translation dulu. Jadi, efisiensi bergantung pada volume dan tipe konten.
Keputusan Akhir: Pilih Berdasarkan Use Case
Jangan tanya “mana yang lebih baik?” Tanya “mana yang lebih cocok untuk saya?”
Pilih WPML Kalau:
- Anda kelola situs besar (>200 konten) atau WooCommerce dengan produk banyak
- Tim Anda punya translator terpisah yang butuh dashboard khusus
- Budget tahunan $99-199 bukan masalah
- Anda butuh kompatibilitas pasti dengan page builder premium
- Time is money—Anda mau setup cepat dan support handal
Pilih Polylang Kalau:
- Situs Anda kecil-menengah (<100 halaman) dan sederhana
- Anda ngotot pakai shared hosting murah dan butuh performa maksimal
- Budget nol atau sekali bayar lebih nyaman daripada langganan
- Anda cukup tech-savvy untuk setup manual dan debug sendiri
- Konten Anda jarang update dan nggak butuh workflow tim
Kesimpulan Developer: Saya pakai WPML untuk 70% proyek klien karena efisiensi workflow yang nggak bisa diukur dengan harga plugin. Tapi untuk website pribadi portofolio, Polylang adalah no-brainer—gratis, ringan, dan cukup.
Tips Praktis Migrasi dan Setup
Kalau Anda sudah mantap pilih, ini checklist supaya nggak menyesal:
Migrasi dari WPML ke Polylang: Pakai plugin WPML to Polylang (gratis). Tapi ingat, translation history dan memory tidak bisa dipindah. Anda harus start from scratch untuk string translation.
Migrasi dari Polylang ke WPML: WPML punya tool import bawaan. Prosesnya lebih mulus karena WPML lebih “powerful”. Tapi siap-siap hosting Anda kena beban lebih berat.
Setup Optimal WPML: Aktifkan Translate Some (bukan Everything), matikan bahasa yang nggak dipakai di debug mode, dan pasang WPML Cache Plugin untuk ngurangi query.
Setup Optimal Polylang: Jangan ceklis “Detect browser language” kalau nggak perlu—it nambah query. Dan selalu set Cookie sebagai language detection method, bukan URL-only, untuk avoid duplicate content.

Verdict: Efisien vs Hemat—Mana Menang?
Kembali ke judul: efisien dan hemat. Dua kata yang saling trade-off.
WPML itu efisien tapi nggak hemat (uang). Polylang itu hemat tapi nggak efisien (waktu). Pemenangnya tergantung resource apa yang Anda punya lebih banyak: time or money.
Data jelas: untuk setiap 100 konten yang diterjemahkan, WPML menghemat 3-4 jam kerja. Kalau value jam kerja Anda > $25/jam, WPML sudah ROI dalam tahun pertama. Kalau Anda mahasiswa atau blogger hobby, Polylang memberikan 90% value dengan 0% cost.
Jadi, jawaban final? Tidak ada yang absolut lebih baik. Tapi sekarang Anda punya data konkret untuk decide, bukan cuma marketing speak.