Pilih platform e-commerce itu seperti memilih rumah. Shopify menawarkan apartemen fully furnished: masuk, bayar bulanan, langsung huni. WooCommerce? Seperti beli tanah dan bangun rumah sendiri. Awalnya repot, tapi setelah 5 tahun Anda punya aset, bukan hanya tagihan. Sebagai developer yang sudah memigrasikan puluhan toko dari Shopify ke WooCommerce, saya sering melihat kejutan di invoice bulanan Shopify yang bikin owner ngelus dada.
Biaya Nyata: Kalkulasi 3-5 Tahun ke Depan
Bayangkan toko online Anda mulai stabil dengan 500 transaksi per bulan. Mari kita hitung bersama.
Di Shopify, Anda mulai dengan Basic Shopify: $39/bulan. Tapi belum termasuk fee transaksi 2.9% + 30¢ per order. Dengan rata-rata order $50, Anda membayar $1.75 per transaksi. Dalam sebulan: 500 × $1.75 = $875. Total bulanan: $39 + $875 = $914. Per tahun? $10.968.
Butuh fitur subscription? Tambah ReCharge: $99/bulan. Butuh upsell? Tambah Zipify: $35/bulan. Invoice Anda sudah mencapai $1.048/bulan sebelum Anda sadar.

WooCommerce? Hosting VPS solid seperti Cloudways atau Kinsta mulai dari $35/bulan. Domain $12/tahun. SSL gratis. Plugin WooCommerce Subscriptions: $199/tahun (bukan per bulan). Plugin upsell custom one-time fee sekitar $79. Fee transaksi hanya dari payment gateway (seperti Midtrans 2.9% flat, tanpa markup tambahan).
Total tahun pertama WooCommerce: $420 hosting + $199 subscription + $79 upsell = $698. Bandingkan dengan Shopify: $10.968. Selisihnya? $10.270. Uang untuk iklan atau gaji karyawan.
| Biaya (Per Tahun) | Shopify | WooCommerce |
|---|---|---|
| Platform Fee | $468 (Basic) | $0 |
| Transaction Fee (500 orders/bln) | $10.500 | $0 (hanya gateway) |
| Hosting | Termasuk | $420 |
| Plugin Subscription | $1.200 (estimasi 3 apps) | $199 |
| Total Tahunan | $12.168 | $698 |
Di tahun ketiga, Anda sudah menghemat >$30.000. Itu modal ekspansi ke marketplace atau gudang baru.
Kontrol Penuh: Data dan SEO Ada di Tangan Anda
Shopify adalah walled garden. Anda tidak bisa edit robots.txt secara native sampai 2021. URL structure terpaksa pakai /products/, /collections/. Mau custom? Toh tetap ada batasan.
WooCommerce berjalan di database Anda. Anda bisa akses directly via phpMyAdmin, ekspor custom, atau bikin cron job untuk sync inventori ke sistem ERP lokal. SEO? Yoast SEO atau Rank Math memberi kontrol granular: schema markup per produk, breadcrumbs custom, redirect 301 bulk via CSV.
Pernah klien saya migrasi karena Shopify tidak bisa handle 500.000 produk tanpa enterprise plan $2.000/bulan. Di WooCommerce, dengan proper indexing dan Redis object caching, toko tetap load under 2 detik. Itah yang tidak bisa dibeli dengan uang di Shopify.
Skalabilitas Tanpa Batas: Dari 10 Produk ke 10.000
Skalabilitas Shopify identik dengan upgrade plan. Basic ke Shopify ($105/bln) ke Advanced ($399/bln) ke Plus ($2.000/bln). Setiap kenaikan bikin profit margin menipis.
WooCommerce menskalakan dengan optimasi teknis. Hosting naik dari $35 ke $80 (VPS lebih besar). Tambah CDN Cloudflare APO ($5/bln). Redis cache gratis. Hasilnya? Biaya naik proporsional, tidak eksponensial.

Toko fashion lokal yang saya handle mulai dari 50 produk di 2019. Sekarang 8.000 produk dengan 50.000 visitor harian. Hosting cuma naik ke $95/bln. Di Shopify, mereka harus di Plus: $24.000/tahun vs $1.140/tahun di WooCommerce.
Fleksibilitas Integrasi: API WordPress adalah Raja
Shopify API punya rate limit 2 request/detik. Sync 10.000 produk? Butuh jam. WooCommerce REST API bisa di-tune di server sendiri, tanpa limit sembarangan. Butuh webhook ke sistem inventory lokal? Bikin custom endpoint di functions.php, selesai.
Butuh payment gateway lokal seperti Xendit atau Midtrans? Plugin WooCommerce-nya sudah ada, gratis, dan tidak ada fee tambahan. Di Shopify? Anda harus pakai Shopify Payments dulu, atau bayar additional fee 0.5-2% kalau pakai third party.
Komunitas dan Ekosistem: Solusi untuk Setiap Masalah
WordPress powers 43% internet. Masalah Anda sudah pernah dihadapi 1.000 orang. Solusi ada di Stack Overflow, WPBeginner, atau GitHub. Plugin repository punya 60.000+ plugin gratis yang di-review ketat.
Shopify app store? Banyak apps berkualitas, tapi 80% berbayar, dan setiap app adalah vendor lock-in. Uninstall app? Datanya sering ikut hilang atau bikin leftover code.
Klient saya pernah install app reviews di Shopify. Uninstall karena mahal. Ternyata schema markup yang ditambahkan app tidak ikut terhapus. Database penuh metafield sampah. Di WooCommerce, uninstall plugin bersih dengan uninstall hook bila developer profesional.
Kapan Shopify Masih Masuk Akal?
Jujur, Shopify bukan musuh. Ada kasus di mana Shopify lebih cocok:
- Startup non-teknis yang butuh launch dalam 3 hari. Shopify menang di speed to market.
- Budget kecil & tidak punya developer. Biaya bulanan bisa diprediksi, support 24/7.
- Toko sampingan dengan <50 produk, tidak butuh custom logic rumit.
Tapi begitu Anda serius, scale, dan butuh profit margin sehat, WooCommerce adalah investasi, bukan tagihan.
Warning: Migrasi dari Shopify ke WooCommerce butuh perencanaan. URL structure berbeda, redirect 301 wajib, dan data customer harus sesuai GDPR. Jangan DIY kalau traffic sudah tinggi. Hire developer yang paham both platforms.
Kesimpulan: Investasi vs Kewarungan
Shopify adalah kenyamanan instan dengan harga mahal. WooCommerce adalah aset yang Anda bangun, kontrol, dan wariskan. Dalam 5 tahun, selisih biaya bisa mencapai $50.000-$100.000 tergantung skala. Uang itu bisa jadi down payment rumah atau ekspansi bisnis fisik.
Jika Anda teknis enough atau punya developer handal, pilih WooCommerce. Jika Anda baru mulai dan butuh hasil cepat tanpa belajar coding, Shopify sebagai stepping stone. Tapi ingat: setiap dollar yang dihemat dari platform fee adalah dollar untuk pertumbuhan Anda.