Website lambat itu musuh bersama. Kamu sudah pakai caching plugin tapi skor PageSpeed masih bikin miris? Saya dulu begitu. WP Rocket memang raja di ranah performa WordPress, tapi rumor beredar: ada pesaing baru yang katanya lebih canggih, lebih adaptif, dan bikin core web vital jadi benar-benar green. Namanya FlyingPress.
Ini bukan review basa-basi. Saya tes langsung di situs klien dengan traffic 50K/bulan, konfigurasi kompleks, dan tema page builder. Hasilnya? Ada yang bikin terkesan, ada juga yang perlu kamu pertimbangkan matang-matang sebelum pindah kapal.
Apa itu FlyingPress? (Dan Kenapa Banyak yang “Hype”)
FlyingPress adalah premium caching plugin buatan Gijo Varghese—sosok di balik komunitas WP Speed Matters. Bedanya dengan plugin caching kebanyakan? FlyingPress tidak cuma “nempel” cache dan ngompresi. Dia punya strategi optimasi yang lebih agresif dan cerdas, terutama dalam menangani critical rendering path.

Plugin ini menawarkan pendekatan “holistik”—ngurus CSS, font, gambar, dan script sekaligus tanpa harus tambah belasan plugin tambahan. Konsepnya: satu plugin untuk atasi semua performance bottleneck yang umum ditemui di WordPress modern.
Fitur Utama yang Jadi Andalan
- Critical CSS & Unused CSS Removal: Generate dan terapkan Critical CSS otomatis, lalu remove CSS yang tidak terpakai per halaman. Ini beda dengan WP Rocket yang cuma delay non-critical CSS.
- Font Optimization: Host Google Fonts lokal, preload font penting, dan terapkan font-display: swap secara otomatis. Skor “Eliminate render-blocking resources” langsung turun drastis.
- Image Lazy Loading & Preload: Lazy load gambar, iframe, plus preload hero image secara otomatis. Ada juga WebP conversion bila server mendukung.
- Script Manager: Disable plugin CSS/JS di halaman tertentu tanpa kode. Mirip Perfmatters, tapi integrated di dalam caching plugin.
- Smart Preload: Preload cache hanya untuk halaman populer dan otomatis berhenti saat server overload. Hemat resource.
Kiprah Nyata: Performa di Lapangan (Bukan Cuma Marketing)
Saya implementasikan di staging site klien e-commerce yang pakai WooCommerce + Elementor. Hasil sebelum (WP Rocket): Mobile PageSpeed 68, LCP 3.8s. Setelah 1 jam setup FlyingPress: Mobile PageSpeed 92, LCP 1.9s. Improvement nyaris 40% di skor dan 50% di LCP.
Butuh catatan: hosting pakai Cloudways Vultr HF, sudah ada Redis. Jadi improvement ini benar-benar dari efisiensi plugin, bukan “tambah power” server. TTFB juga stabil di 150ms, tidak naik meski cache preload aktif.

Metrik Penting yang Terpengaruh
- First Contentful Paint (FCP): Turun dari 1.8s ke 0.9s
- Total Blocking Time (TBT): Dari 450ms jadi 120ms
- Cumulative Layout Shift (CLS): Stabil di 0.01 (font preload otomatis sangat membantu)
Perhatian: Hasil di atas tidak otomatis sama di semua situs. Situs dengan tema ringan (GeneratePress, Kadence) mungkin perbedaannya tidak signifikan. Tapi kalau pakai page builder berat, FlyingPress punya lebih banyak “senjata” untuk dioptimasi.
Pengalaman Setup: Mudah atau Pusing?
Dashboard FlyingPress lebih minimalis dibanding WP Rocket. Tidak ada banyak tab, tapi setiap toggle punya penjelasan kontekstual yang jelas. Setting default-nya sudah cukup agresif untuk kebanyakan situs. Cuma butuh 10 menit untuk aktifkan fitur utama.
Yang bikin beda: documentation-nya sangat teknis dan transparan. Gijo langsung jelasin kenapa suatu fitur bekerja dan potensi konfliknya. Ini kontras dengan dokumentasi WP Rocket yang lebih “aman” dan konservatif.
Tahap Konfigurasi yang Perlu Diperhatikan
- Critical CSS Generation: Butuh 1-2 menit pertama kali. Prosesnya asynchronous, jadi tidak freeze situs.
- Font Preload: Pastikan font yang dipilih benar-benar digunakan di halaman. Kalau salah, malah jadi render blocking.
- Script Manager: Butuh trial error. Disable script di halaman yang salah bisa bikin fungsi e-commerce rusak.
Ada fitur “Safe Mode” untuk debugging. Kalau situs rusak setelah aktifkan fitur baru, kamu bisa rollback tanpa deactivate plugin. Sangat berguna.
FlyingPress vs WP Rocket: Head-to-Head Spesifik
Mari kita bandingkan secara konkret di beberapa parameter kunci.
| Fitur | FlyingPress | WP Rocket | Pemenang |
|---|---|---|---|
| Critical CSS | Generate + Remove Unused CSS | Load Async + Separate Cache File | FlyingPress (lebih agresif) |
| Font Optimization | Host Local + Preload Otomatis | Host Local (manual) | FlyingPress (otomatis) |
| Script Manager | Built-in, per page/post | Tidak ada (butuh Perfmatters) | FlyingPress (integrated) |
| Cache Preload | Smart Preload (CPU-aware) | Preload semua (agak brute force) | FlyingPress (lebih efisien) |
| Database Optimization | Basic (clean up) | Advanced (schedule, granular) | WP Rocket (lebih lengkap) |
| CDN Integration | Perlu setup manual (RocketCDN support terbatas) | RocketCDN seamless, lebih banyak integrasi | WP Rocket (lebih mudah) |
| Compatibility | Terbatas (kadang konflik dengan LiteSpeed) | Sangat luas, kompatibel hampir semua hosting | WP Rocket (lebih aman) |
Harga juga jadi pertimbangan. FlyingPress: $60/tahun untuk 1 site. WP Rocket: $59/tahun untuk 1 site. Hampir sama, tapi FlyingPress memberikan lebih banyak fitur “premium” dalam satu paket.
Siapa yang Harus Pakai FlyingPress?
FlyingPress bukan untuk semua orang. Ini bukan plugin “install lupa”. Kamu perlu paham konsep dasar performance optimization dan berani eksperimen.
Cocok untuk:
- Pengguna Elementor, Divi, atau page builder berat yang butuh optimasi agresif
- Developer yang suka kontrol granular tanpa tambah banyak plugin
- Situs dengan traffic menengah-tinggi yang peduli dengan server resource
Kurang cocok untuk:
- Pemula yang butuh “set and forget” super aman
- Situs pakai LiteSpeed Cache (konflik potensial tinggi)
- User yang butuh integrasi CDN bawaan tanpa ribet
Catatan Penting & Potensi Konflik
FlyingPress punya beberapa “catatan merah” yang harus diingat:
Warning: Jangan pernah pakai FlyingPress bersama LiteSpeed Cache. Ini bukan soal fitur overlap, tapi konflik di level output buffer yang bisa bikin situs down. Pilih salah satu.
Konflik juga mungkin terjadi dengan plugin security yang terlalu agresif seperti Wordfence jika aktifkan “Delay JavaScript” tanpa exclude script penting. Selalu test di staging dulu.
Fitur “Remove Unused CSS” bisa jadi overkill di situs dengan banyak dynamic content. Kadang CSS yang “terlihat tidak terpakai” di halaman A ternyata dipakai di halaman B setelah interaksi user. Gunakan dengan hati-hati.

Kesimpulan: Pindah atau Bertahan?
FlyingPress adalah contender serius. Bukan sekadar hype. Di tangan yang tepat, dia bisa outperform WP Rocket—terutama di lingkungan page builder. Tapi dia juga lebih “berisiko” dan butuh pemahaman lebih dalam.
Rekomendasi saya: jangan pindah kalau WP Rocket sudah bikin situsmu skor 90+. Tapi kalau masih struggling di skor 50-70 dan pakai page builder, FlyingPress bisa jadi game-changer.
Alternatif strategis: pakai WP Rocket + Perfmatters. Kombinasi ini lebih aman, kompatibel lebih luas, dan hasilnya bisa setara—tapi total harganya lebih mahal.
Intinya: FlyingPress bukan “WP Rocket killer”. Dia adalah pilihan spesialis untuk kasus spesifik. Dan untuk kasus itu, dia sangat, sangat bagus.