Link mati di website itu seperti lubang di jalan yang bikin pengguna tersandung. Dari sisi SEO, Google makin ganas menghukum situs dengan banyak 404 errors. Dulu saya habiskan waktu berjam-jam cek manual tiap bulan, sampai akhirnya ketemu plugin yang katanya bisa otomatis tanpa bikin server ngelag. Broken Link Checker namanya, dan ini review jujur setelah pakai bertahun-tahun di puluhan website.
Kenapa Link Mati Bisa Bikin Rankings Ambruk
Bayangkan visitor lagi asyik baca artikel, tiba-tiba klik link menuju halaman yang hilang. Frustrasi? Ya. Google juga punya perasaan serupa. Crawl budget terbuang, link equity menguap, dan bounce rate naik.
Dari pengalaman saya, satu website dengan 500+ postingan bisa punya 30-50 link mati dalam setahun. Tanpa tool, kamu harus:
- Cek tiap artikel satu per satu
- Pakai browser extension yang tidak akurat
- Bayar tool online mahal per bulan

Pertama Kali Install: Expectation vs Reality
Saya install Broken Link Checker pertama kali di tahun 2019 di website dengan traffic 50K per bulan. Expectation: plugin bakal langsung scan semua link dan kasih notifikasi. Reality: butuh 2-3 jam pertama kali, tapi server tetap stabil.
Setup-nya sederhana. Install dari repo WordPress, aktifkan, lalu masuk ke Settings > Link Checker. Di sini kamu bisa atur:
- Jarak scan (default 72 jam)
- Timeout limit per link
- Maksimal eksekusi per cron run
Yang bikin tenang: plugin ini pakai WP Cron yang terjadwal, bukan sekali jalan. Jadi dia “nggigit” sedikit demi sedikit, bukan langsung makan semua resource.
Cara Kerja di Balik Layar (Teknis tapi Relevan)
Plugin ini tidak sekadar jalanin HTTP request secara membabi buta. Ada algoritma canggih di baliknya yang bikin beda dari plugin sejenis.
Resource Throttling adalah kuncinya. Setiap eksekusi cron, plugin cuma cek 50-100 link (bisa diatur). Setelah itu dia istirahat sampai jadwal berikutnya. Ini mencegah CPU spike yang bikin hosting susah napas.
Saya pernah cek server load via htop saat scan berjalan. Di VPS dengan 2 CPU cores, load average cuma naik 0.2-0.3. Bandingkan dengan plugin lain yang pernah saya coba: bisa naik sampe 2.0+ dan bikin website timeout.

Data Nyata: Berapa Lama Scan Selesai?
Berdasarkan log di website saya:
| Ukuran Website | Jumlah Link | Waktu Scan Pertama | Load Impact |
|---|---|---|---|
| 50 postingan | ~800 link | 45 menit | Minimal |
| 500 postingan | ~12.000 link | 6-8 jam | Sedang (0.3 load) |
| 2000+ postingan | ~50.000 link | 24-48 jam | Sedang (0.5 load) |
Angka ini dengan settingan default. Kamu bisa percepat atau lambatkan sesuai kekuatan server.
Pengaturan Performance yang Sering Dilewatkan
Ada 3 setting krusial yang kebanyakan user abaikan, padahal ini yang bikin beda antara “aman” dan “bikin down”.
1. “Check link timeout”
Default 30 detik terlalu lama untuk hosting shared. Saya selalu ganti jadi 10 detik. Cukup untuk cek kebanyakan link, tidak buang resource nunggu server lama.
2. “Max execution time”
Ini batas waktu per cron run. Saya set 20 detik di shared hosting, 60 detik di VPS. Jika server lemot, plugin otomatis pause dan lanjutkan di sesi berikutnya.
3. “Server load limit”
Fitur paling jarang dipakai tapi paling penting. Kamu bisa kasih batas maksimal server load (misal: 1.0). Jika load melebihi, plugin pause sampai server kembali normal. Ini jadi safety net yang pernah nyelamatkan saya saat traffic tiba-tiba naik.
Fitur Otomatisasi: Hapus Link Mati Tanpa Sentuh
Bukan cuma deteksi, plugin ini bisa otomatis “bersih-bersih”. Tapi hati-hati, otomatisasi butuh settingan tepat.
Auto-Unlink adalah fitur favorit saya. Ketika link terdeteksi mati selama X hari (bisa diatur), plugin otomatis hapus link tersebut dari konten, tapi teks anchor-nya tetap ada. Jadi tidak ada link merah mengganggu, tapi tulisannya masih ada.
Contoh kasus: di artikel lama ada link ke website yang sudah mati. Setelah 30 hari tidak respons, link dihapus otomatis. Artikel jadi:
Sebelum: Kunjungi sumber
Sesudah: Kunjungi sumber (teks biasa, tidak bisa diklik)
Alternatif lain: Redirect to Default URL. Link mati bisa diarahkan ke homepage atau halaman khusus. Saya jarang pakai ini karena kurang etis ke pengguna.
Untuk bulk action, di dashboard plugin ada opsi “Unlink all broken links” yang bisa eksekusi sekali klik. Tapi saya selalu cek manual dulu mana yang benar-benar perlu dihapus.
Kapan Plugin Ini Bisa Jadi Musuh?
Meski terkenal “ringan”, ada situasi diplugin ini justru bikin masalah. Saya alami sendiri di website dengan 100+ penulis konten.
Problem 1: Database Bloat
Plugin nyimpen semua hasil scan di custom table
wp_blc_links
. Di website besar, tabel ini bisa sampe 50-100MB. Saya harus schedule optimization mingguan.
Problem 2: Conflict dengan Cache Plugin
Ketika scan berjalan, kadang WP Rocket atau LiteSpeed Cache “kebingungan” dan generate cache halaman yang belum selesai di-scan. Solusinya: pause cache plugin saat scan berjalan pertama kali.
Problem 3: Hosting dengan Strict Limit
Beberapa hosting seperti GoDaddy Economy atau Hostinger Single memiliki CPU limit sangat ketat. Meski load cuma naik sedikit, tetap bisa kena throttle. Saya pernah kena suspend 24 jam gara-gara scan di malam hari. Solusinya: atur scan interval jadi 168 jam (seminggu sekali) dan max execution time 10 detik.
Warning Keras: Jangan pernah aktifkan plugin ini di website dengan traffic di atas 100K per hari di shared hosting. Pindah ke VPS atau pakai external service seperti Ahrefs/Screaming Frog.
Step-by-Step: Setting Otomatis Hapus Link Mati
Ini settingan yang saya pakai untuk website berita dengan 300+ postingan di VPS:
- Aktifkan plugin, masuk ke Tools > Broken Links
- Klik tab Settings, atur:
- Check each link: every 72 hours
- Timeout: 15 seconds
- Max execution time: 30 seconds
- Server load limit: 0.7 (sesuaikan dengan CPU core)
- Scroll ke Link actions, ceklist Unlink broken links after dan isi 30 hari
- Pastikan Email notifications aktif supaya tahu perkembangan
- Klik Save dan mulai manual scan pertama via tombol “Check all pages”
Pro tip: Setelah scan selesai, eksport report ke CSV. Backup dulu sebelum bulk unlink. Saya pernah salah hapus link penting gara-gara terlalu percaya otomatisasi.
Alternatif Saat Plugin Ini Terlalu Berat
Tidak semua website cocok. Ini perbandingan realistis:
External Tools (Screaming Frog, Ahrefs)
Cocok untuk website besar (>500K link). Data lebih akurat, tidak bebani server. Tapi mahal dan tidak real-time. Saya pakai Screaming Frog untuk audit bulanan, sementara Broken Link Checker untuk monitoring harian.
Plugin Lain (Link Checker by WPMU DEV)
Interface lebih modern, tapi mekanismenya lebih agresif. Saya coba di website kecil, load naik 0.5 constant. Broken Link Checker masih lebih “gentle” di resource.
Manual + Browser Script
Buat website portfolio pribadi dengan <20 halaman, ini paling efisien. Tidak perlu plugin sama sekali.
Verdict: Siapa yang Harus Pakai Plugin Ini?
Setelah 5 tahun pakai di berbagai skenario, ini rekomendasi saya:
PAKAI jika:
- Website dengan 50-500 postingan
- Traffic di bawah 100K per bulan
- Hosting minimal VPS atau shared hosting premium (SiteGround, Kinsta)
- Kamu butuh otomatisasi tanpa biaya tambahan
JANGAN PAKAI jika:
- Website e-commerce dengan traffic tinggi (risky)
- Hosting murah dengan CPU limit ketat
- Kamu punya budget untuk tool external
- Website >1000 postingan tanpa VPS
Kesimpulan: Broken Link Checker adalah plugin “set it and forget it” yang handal, asal kamu paham limitasi dan settingan performance-nya. Jangan jadi malas baca dokumentasi. Invest waktu 15 menit di awal untuk setting optimal akan selamatkan jam-jam pusing di kemudian hari.
Untuk kebanyakan website Indonesia yang pakai VPS lokal atau shared hosting menengah, plugin ini masih jadi pilihan terbaik antara fungsionalitas dan resource usage. Tapi ingat, otomatisasi bukan berarti boleh tidur. Cek dashboard minimal seminggu sekali.